Mathematics With Mr. Kenzie

LATIHAN UN MATEMATIKA ONLINE

Sunday, 20 July 2014

SMK Tunas Harapan Pati mengukir 3 emas & 1 perak di Tingkat Propinsi Jawa Tengah Tahun 2014

Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2014 SMK Tunas Harapan Pati mengikuti empat bidang lomba sebagai wakil dari Kabupaten pati. Bidang lomba Matematika Teknologi, Fisika Terapan, Kimia Terapan dan Biologi Terapan. Dibawah kepemimpinan Ir. Eny Wahyuningsih, M.Pd. berhasil menyabet tiga sekaligus juara I pada lomba Matematika Teknologi, Fisika Terapan, dan Kimia Terapan yang akan mewakili Jawa Tengah pada OSTN Tingkat Nasional dan juara 2 pada lomba Biologi Terapan. Sekaligus menjadikan Kabupaten Pati sebagai juara umum OSTN 2014 Tingkat Propinsi Jawa Tengah. Team OSTN SMK Tunas Harapan Pati diterima langsung oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pati dengan upacara penyambutan. OSTN Propinsi Jawa Tengah dilaksanakan mulai tanggal 24 - 27 Juni 2014 di Auditorium Prof. Soedarto UNDIP. Olimpiade Saint Terapan Nasional diikuti oleh seluruh SMK di Propinsi Jawa Tengah yang merupakan wakil dari masing – masing Kabupaten. Peserta dari SMK Tunas Harapan Pati antara lain Mochamad Asyim Muntohar bidang lomba Matematika Teknologi, Tri Wahyu Utomo bidang lomba Fisika Terapan, Rizky Setiandi bidang lomba Kimia Terapan dan Zulfa Istiani bidang lomba Biologi Terapan. Putra – putri terbaik SMK Tunas Harapan Pati di bawah bimbingan antara lain: untuk lomba matematika Teknologi Ratna Desy Natalia, M.Pd., mata lomba Fisika Terapan Nuri, S.Pd., Kimia Terapan Ratnasari, S.Pd. dan Biologi Terapan oleh Erna Maekawati, S.Pd.

OSTN merupakan ajang lomba siswa siswi SMK dalam rangka meningkatkan kompetensi pelajar SMK dalam menerapkan kemampuan yang telah dipelajari di sekolah. Selain itu juga untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan peserta didik dibidang sains terapan, meningkatkan citra sekolah kejuruan, memacu proses pembelajaran sesuai tuntutan kebutuhan dan menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha/Dunia Industri.

Monty Hall problem

 
 
Masih berhubungan dengan teori peluang
Bayangkan kamu mengikuti kuis, ada tiga pintu disana sebut saja pintu 1, pintu 2 dan pintu 3., salah satu berisi mobil dan dua lainnya berisi kambing.  Kamu disuruh memilih salah satu dari ketiga pintu dan akan mendapatkan benda di balik pintu yang kamu pilih.  Tentu saja kamu tidak tahu di pintu berapa, mobil itu berada. Misalkan saja kamu memilih pintu 1 kemudian si pembawa acara bernama monty membuka salah satu pintu bisa pintu 2 atau 3 dan ternyata berisi kambing. Lalu si Monty bertanya ke kamu ” apa kamu mau mengganti pilihan?”. Nah..sekarang pertanyaan untuk kita semua
1. Berapa peluang mu mendapatkan mobil jika tetap memilih pintu 1?
2. Berapa peluang mu mendapatkan mobil jika mengganti pilihan?
Banyak orang termasuk para akademisi berpikiran peluangnya 1/2, mau kamu menganti pilihan atau tidak tetap peluangnya 1/2. Dengan alasan mau apapun pintu yang kamu pilih tetap saja pintu tersebut hanya ada 2 kemungkinan berisi mobil atau kambing. Padahal sebenarnya peluangmu hanya 1/3 jika kamu tetap memilih pintu 1 dan peluangmu akan naik menjadi 2/3 jika kamu mengannti pilihan.

Menurut kamu ???

sumber : http://en. wikipedia.org/wiki/Monty_Hall_problem

TEORI MATEMATIKA YANG WOW !!

Jumlah sudut Segitiga tidak selalu 180° Di Sekolah ente ente pasti diajarkan bahwa jumlah sudut segitiga adalah 180° (yaiyah dong gan ) , padahal sebenarnya jumlah sudut Segitiga tidak selalu 180°. Jumlah sudut segitiga tergantung pada bidang apa segitiga itu digambar. Jika segitiga itu digambar di bidang datar (Geometri Euclid) maka jumlah sudutnya selalu 180°. Akan tetapi jika segitiga terbut digambar di bidang cembung /cekung (Geometri Non-Euclid) maka jumlah sudutnya tidak lagi 180°. Okey gampangnya gini dech, coba ente gambar segitiga pada bola, lalu hitung sudutnya. Apa jumlahnya masih 180° ?

Permainan Matematika Asik dan Ajaib

kalkulatorMatematika tidak harus menjadi sesuatu hal yang menakutkan, karena matematika juga mengasyikkan sebagai permainan. Selain menghibur, juga bermanfaat untuk mencari informasi penting, hari kelahiran misalnya.
Berikut ini adalah beberapa permainan dengan perhitungan Matematika. Anda bisa mengajak anak anda untuk mengikuti permainan ini, agar mereka semakin menyenangi matematika dan angka-angka. Anda bisa melakukan perhitungan di atas kertas, boleh juga menggunakan sebuah kalkulator – kalau bisa dengan layar berdigit 12 atau lebih – agar hasilnya lebih menarik. Semakin banyak peserta permainan, tentu akan lebih mengasyikkan.

Permainan I

Layar kalkulator akan menampilkan tanggal lahir anda; bulan/tanggal/tahun.
Langkah-langkah:
  1. Kalikan angka bulan kelahiran dengan 4
  2. Hasilnya tambahkan dengan 13
  3. Kalikan 25
  4. Dikurangi dengan 200
  5. Tambahkan hasilnya dengan angka tanggal lahir
  6. Kalikan 2
  7. Hasilnya dikurangi 40
  8. Kalikan 50
  9. Tambahkan hasilnya dengan dua digit terakhir dari angka tahun (1980 diambil 80)
  10. Terakhir kurangi dengan 10.500

Permainan II

Layar kalkulator akan menampilkan tanggal lahir anda, serta usia anda sekarang
  1. Masukkan tanggal kelahiran anda pada kalkulator. Dahului bulan kelahiran, diikuti tanggal lahir (untuk angka bulan 1 sampai dengan 9 diketik dengan angka 0 di depannya, misalnya 01 = Januari), kemudian dua digit terakhir dari angka tahun.
  2. Kalikan angka itu dengan 2
  3. Hasilnya jumlahkan dengan 5
  4. Kalikan hasilnya dengan 50
  5. Tambahkan dengan 1758 kalau anda belum berulang tahun, atau 1759 jika anda sudah melewati hari ulang tahun anda tahun ini.
  6. Kurangkan hasilnya dengan keempat digit angka tahun kelahiran.
Hasilnya adalah satu atau dua digit pertama adalah bulan kelahiran, dua digit kedua adalah tanggal lahir, dua digit ketiga adalah tahun kelahiran, dan dua digit terakhir adalah usia anda sekarang.

Permainan III

Menemukan hari kelahiran anda
Langkah-langkah:
  1. Tentukan tanggal kelahiran yang dicarik harinya, misalkan 16 September 2009.
  2. Tentukan jumlah hari dalam tahun itu, sejak awal tahun hingga hari lahir. Untuk tahun kelahiran kabisat, atau tahun yang habis dibagi dengan 4 dan seterusnya, maka jumlah hari di bulan Pebruari adalah 29 hari (tahun-tahun kabisat adalah dari sebelumnya … 1968, 1972, 1976, 1980, 1984, 1988, 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, 2012, dst)
Tabel 1
Januari=31, Pebruari=28 atau 29, Maret=31, April=30, Mei=31, Juni=30, Juli=31, Agustus=31, September=30, Oktober=31, Nopember=30, Desember=31
Maka jumlah hari adalah 31 (Januari) + 28 (Pebruari) + 31 (Maret) + 30 (April) + 31 (Mei) + 30 (Juni) + 31 (Juli) + 31 (Agustus) + 16 (September) = 259
3.   Angka tahun dikurangi dengan 1 = 2009-1 = 2008
4.   Hasilnya dibagi dengan 4 dan abaikan angka desimalnya = 2008 : 4 = 502
5.   Jumlahkan angka tahun dengan jumlah hari dan hasil perhitungan no.4 = 2009 + 259 + 502 = 2770
6.   Hasilnya dibagi dengan 7 = 2770 : 7 = 395,7
7.   Perhatikan angka desimalnya, dan cocokkan dengan tabel 2 di bawah. Angka desimalnya 7 = hari Rabu
Tabel 2
0 = Jumat, 1 = Sabtu, 2 = Minggu, 3 = Senin, 4 = Selasa, 5 = Rabu, 6 = Kamis, 7 = Rabu, 8 = Kamis

Permainan IV

Layar kalkulator akan menampilkan nomor telepon 7 digit anda
  1. Masukkan tiga digit pertama dari nomor telepon anda di kalkulator (tidak termasuk 0 di depannya)
  2. Hasilnya kalikan dengan 80
  3. Tambahkan hasilnya dengan 1
  4. Kalikan 250
  5. Hasilnya tambah dengan empat digit terakhir nomor telepon itu
  6. Tambahkan sekali lagi dengan empat digit terakhir itu
  7. Hasilnya kurangi 250
  8. Bagi hasilnya dengan 2

Permainan V

Layar kalkulator akan menampilkan nomor telepon 12 digit anda
  1. Masukkan tujuh digit pertama nomor telepon anda (tidak termasuk 0 di depannya)
  2. Kurangkan dengan angka dua digit terakhir dari tujuh angka no.1
  3. Hasilnya kalikan 80
  4. Tambahkan dengan 1
  5. Kalikan hasilnya dengan 250
  6. Tambahkan hasilnya dengan enam digit terakhir dari nomor telepon anda
  7. Sekali lagi tambahkan dengan angka yang sama
  8. Hasilnya kurangi dengan 250
  9. Bagi hasilnya dengan 2
Nanti di lain kali kita analisis yuk… ko boisa gitu sih….. haha..
Salam Matematika!!!!


sumber : http://mathbest.wordpress. com/

HUMOR MATEMATIKA :D

PELAJARAN UKUR SUDUT 

Suatu hari disebuah ruang kelas, seorang guru matematika mengajarkan sudut segitiga kepada murid-muridnya.

Guru : "Anak-anak sudut ABC sama dengan 60 dera...?"

Murid : "jat!"

Guru : "Sudut BAC sama dengan 60 dera...?"

Murid : "jat!"

Guru : "Jadi kedua sudut itu sama be...?"

Murid : "jat!"

Guru : "#$%!*&..."


MENEMUKAN X DAN Y

Uhe diberi PR oleh guru matematikanya.

Kebetulan ayah Uhe sedang mengerjakan sesuatu di kamar Uhe

Uhe: Ayah, bisa tolong aku menemukan X dan Y ini?
Ayah: Lho, gurumu menyuruhmu menemukannya?

Uhe: Iya, memangnya kenapa, Yah?
Ayah: Ayah heran, sejak ayah duduk di bangku SD sampai sekarang, X dan Y masih belum ditemukan!


SISA BERAPA ??

Seorang guru memberi soal kepada Muridnya.

Guru : 10 dikurang 5 berapa Murtodo ???

Murtado : 5 bu

Guru : Pintar kamu. Sekarang jika ada 10 ekor kuda dan yg berlari ada 5 ekor kuda,

sisa berapa?

Murtado : sisa 10 bu,

Guru : kok bisa gitu?

Murtado : karena yg 5 ekor kuda tadi hanya berlari ditempat bu…

Guru : $%^$#^&

7 Tips Agar Anak Suka Matematika

Dari jaman ulat jedhung sampai jadi kepompong lalu berubah menjadi kupu – kupu,bagi sebagian anak yang  namanya matematika seperti hantu menakutkan

. Ada juga “anak” yang beranggapan matematika itu membingungkan dan sulit. Yang saya maksud “anak” di sini adalah anak sekolah dan anak – anak yang sudah beranak pinak (baca : orang tua) . Sebab tidak sedikit orang tua yang kadang juga masih berpikir bahwa matematika itu mbulet, sulit, dan mbingungi. Bahkan ada juga yang berpendapat hanya anak cerdas saja yang pintar matematika dan punya IQ di atas rata – rata.
Saya kurang sependapat jika matematika dianggap pelajaran yang membingungkan dan sulit. Walaupun faktanya nilai matematika saya dari kelas satu SD hingga selesai S2 (S2 yang dimaksud adalah SD dan SMP …) tidak pernah jauh dari angka 5. Hehehe…! Saya tidak pernah merasa bahwa matematika itu sulit, sebab prinsip saya seberapa pun sulit dan beratnya suatu pekerjaan akan menjadi ringan dan mudah kalau tidak dikerjakan. (Hahaha…dasar pemales!).
Setiap orang tua pasti menginginkan anak – anaknya tumbuh cerdas, tak terkecuali saya. Orang tua juga ingin anak – anaknya menjadi pintar. Kalau bisa berprestasi di sekolah tentu lebih membanggakan lagi, namun bukan berarti orang tua boleh memaksakan anak untuk berprestasi, karena ini bisa menjadikan anak merasa tertekan.
Kembali ke matematika yang dianggap sulit dan membingungkan.
Saya punya tips yang mungkin bisa dicoba dan mudah – mudahan bermanfaat.
1. Matematika itu menyenangkan dan tidak sulit.
Berdasarkan pengalaman nilai matematika yang lebih sering jeleknya daripada bagusnya, saya bertekad bahwa jika kelak anak saya sekolah saya tidak ingin dia mengalami hal serupa. Ini memberi motivasi kepada diri saya sebagai “anak yang beranak pinak ” untuk mengenalkan matematika kepada anak sejak dini. Ketika anak sulung saya (sekarang kelas V SD) memasuki usia lima tahun yang saya perkenalkan terlebih dahulu adalah angka – angka, tidak seperti kebanyakan orang tua yang biasanya lebih suka memperkenalkan huruf – huruf abjad. Saya lebih suka mengajari anak berhitung daripada membaca.
2. Aku suka matematika.
Selain mengenalkan matematika sejak dini, yang tak kalah penting adalah menanamkan rasa suka kepada matematika.
Kuncinya ada pada orang tua, kalau orang tua suka matematika maka dengan senang hati akan mengajari anak belajar matematika. Bagaimana mungkin orang tua akan senang mengajari anak matematika kalau dia sendiri tidak suka. Jangan pernah berkata ” Bapak / ibu aja dulu gak paham pelajaran ini….” atau ” Nilai matematika ibu / bapak di sekolah dulu juga selalu merah..”
Apalagi sampai mengatakan bahwa pelajaran yang paling dibenci adalah matematika.
3. Matematika tetap dipakai dimanapun dan kapanpun.
Saya selalu menekankan kepada anak bahwa matematika akan tetap dipakai dimanapun dan dimanapun. Pada prinsipnya matematika adalah seni mengasah logika dan ketajaman berpikir. Dengan bahasa yang mudah saya menjelaskan kepada anak tentang pentingnya matematika. Di semua mata pelajaran sekolah ada unsur matematikanya. Dalam pelajaran agama saja ada matematikanya,contohnya jika ditanya ada berapa rukun islam ? Anak menjawab : “Lima”. Lalu saya menjelaskan bahwa lima adalah bilangan,berarti matematika juga kan ?
Pernah suatu ketika anak bertanya kepada saya “Lho, bapak kan udah nggak sekolah apa masih pake matematika ? “
Saya jawab ” Ya tentu saja. Kalau Bapak nggak bisa berhitung (baca matematika) bagaimana Bapak bisa ngitung duit….” (hehehe….).
4. Ala bisa karena biasa.
Dengan bahasa yang mudah dan sederhana terangkan juga bahwa seseorang itu menjadi bisa karena terbiasa. Tidak ada yang sulit dan tidak bisa dikerjakan kalau sudah biasa dilakukan. Ajak anak untuk sering berlatih mengerjakan soal – soal,dan ini berkaitan dengan tips berikutnya,yaitu :
5. 4 x 2 lebih baik dari 2 x 4
Resep ini saya peroleh dari guru matematika saya sewaktu SD. Maksudnya, akan lebih baik jika berlatih 4 kali dalam satu hari meskipun hanya 2 soal yang dikerjakan daripada hanya berlatih 2 kali dalam sehari dan mengerjakan 4 soal. Resep ini juga,dapat diterapkan untuk metode belajar pelajaran lainnya. Lebih baik 4 kali belajar dengan 2 materi pelajaran daripada hanya 2 kali belajar dengan 4 mata pelajaran sekaligus. Daya serap otak tentu akan lebih baik mereka yang belajar 4 kali sehari daripada yang hanya 2 kali dengan berbagai mata pelajaran. Tentu saja yang belajar 2 kali masih lebih baik daripada yang tidak belajar sama sekali,iya kan ?  (Hehehe..!)
6. Ajak anak lomba mengerjakan soal.
Nasehat yang paling baik adalah contoh / teladan. Sesekali ajaklah anak berlomba mengerjakan soal dengan batas waktu yang ditentukan. Ini bisa memberi motivasi kepada anak agar bisa menyelesaikan soal dengan cepat dan tentu saja harus benar. Bukan berarti cepat selesai tapi asal – asalan lho.
7. Jangan mengajari anak dalam kondisi lelah dan tertekan.
Biasanya jika orang tua dalam kondisi lelah dan tertekan akan mudah emosional. Jadi jangan pernah mengajak anak belajar bersama dalam situasi seperti ini.
Demikian beberapa tips agar anak suka matematika yang sudah saya terapkan kepada anak saya. Dan hasilnya juga mulai terlihat. Prestasi akademik anak saya khususnya matematika cukup membanggakan,anak saya lolos olimpiade mata pelajaran (matematika)  tingkat propinsi mewakili kabupaten Sintang untuk tingkat Sekolah Dasar. Alhamdulillah. Tentu saja ini semua juga tak lepas dari bimbingan guru di sekolahnya. Yang perlu kita ingat sebagai orang tua,bahwa pendidikan bukan semata tanggung jawab para guru di sekolah, orang tua juga memegang peranan penting. Berapalah waktu yang dihabiskan anak disekolah jika dibandingkan waktu yang dihabiskan di rumah bersama orang tuanya. Kerja sama yang baik antara orang tua dan dan guru serta lingkungan merupakan salah satu faktor penting keberhasilan pendidikan.
Bagi seekor saya,semua anak yang terlahir ke dunia diberi kepala yang sama dan dibekali otak yang sama pula, tidak ada yang namanya anak bodoh,,yang ada anak yang malas menggunakan otaknya untuk berpikir…”
Jadi tinggal bagaimana kita sebagai orang tua mengajari anak kita agar senang berpikir.

sumber : http://kandangbubrah. wordpress.com/2013/04/06/tips-agar-anak-suka-matematika/

Kurikulum Pendidikan 2013, Apa yang Baru?

Kegiatan belajar-mengajar di sebuah SD.

VIVAnews – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai perlu dikembangkan kurikulum berbasis penguatan penalaran, bukan hafalan semata. Kurikulum pendidikan di Indonesia dipandang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Pola pembelajaran harus diarahkan untuk mendorong murid mencari tahu dan mengobservasi, bukan diberi tahu.
Kemendikbud pun menyusun perubahan kurikulum untuk tahun 2013. Kurikulum baru ini diuji publik selama tiga minggu mulai Senin, 3 Desember 2012. “Zaman sudah berubah. Kompetensi diperlukan untuk pengembangan intelektual siswa juga harus berubah, karena tantangan yang mereka hadapi di masa depan tidak akan sama dengan sekarang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh.
Alasan perubahan kurikulium itu juga merujuk pada hasil sejumlah survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Misalkan pada 2007, survei ‘Trends in International Math and Science’ Global Institute mencatat hanya 5 persen siswa Indonesia mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sedangkan siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen.

Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal-soal kategori rendah yang hanya memerlukan hafalan, sementara siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Ditambah lagi dengan catatan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara peserta PISA. Diadakan tiga tahun sekali sejak 2000, PISA menyertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif, dan keahlian siswa dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA 2009 memperlihatkan, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa negara lain yang menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6. Survei Global Institute 2007 dan hasil PISA 2009 dalam dirangkum dalam satu kesimpulan: prestasi siswa Indonesia rendah dibanding negara lain.
IPA-IPS Hilang

Rancangan Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Mata pelajaran SD yang sebelumnya ada 10 dipadatkan menjadi 6, sedangkan mata pelajaran SMP yang sebelumnya berjumlah 12 diringkas menjadi 10.

Enam mata pelajaran yang diajarkan di SD itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sementara Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang sebelumnya ada di daftar mata pelajaran, akan diajarkan secara terpadu dengan pelajaran-pelajaran lain sesuai tema yang sedang dibahas.

“Misalnya di IPA ada tema soal air, maka tema air itu bisa jadi muatan di pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan PPKN,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, kepada VIVAnews, Minggu 2 Desember 2012. Dengan demikian, IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain berdasarkan tema.

Ibnu menjelaskan, khusus mata pelajaran IPA dan IPS ini, Menteri Nuh memberikan tiga alternatif pengintegrasian. Pertama, nama pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, namun muatannya muncul di pelajaran-pelajaran lain. Kedua, IPA dan IPS dimunculkan mulai kelas 4 SD sampai 6 SD. Ketiga, IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai pelajaran tersendiri untuk kelas 5 dan 6 SD.

“Intinya, yang dihapuskan adalah nama pelajarannya –IPA dan IPS. Namun substansi pelajaran IPA dan IPS tidak ada satu pun yang dihilangkan,” ujar Ibnu. IPA dan IPS bukan satu-satunya mata pelajaran yang akan diubah dalam kurikulum baru. Bahasa Inggris pun tidak akan masuk ke dalam mata pelajaran SD, tapi tetap diajarkan sebagai ekstra kurikuler.

Sementara itu, 10 mata pelajaran yang akan diajarkan di tingkat SMP adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya.

Meski mata pelajaran berkurang, namun jumlah jam pelajaran justru bertambah. Jam belajar siswa SD bertambah rata-rata empat jam per minggu. Untuk kelas 1 SD, jam belajar bertambah dari 26 menjadi 30 jam, kelas 2 SD dari 27 menjadi 32 jam, kelas 3 SD dari 28 menjadi 34 jam, dan kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam.

Jam pelajaran siswa SMP pun bertambah enam jam per minggu, dan siswa SMA bertambah dua jam per minggu. Satu jam pelajaran adalah 35 menit, bukan 60 menit. Penambahan jam belajar ini dilakukan karena jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat dibanding negara-negara lain.

Model pembelajaran di kurikulum baru ini mendorong murid untuk mencari tahu dan melakukan observasi. Siswa diarahkan untuk merumuskan masalah (bertanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Murid dilatih untuk berpikir analitis (mengambil keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin). Siswa juga diajari untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

“Kurikulum baru ini didesain menyiapkan generasi Indonesia yang lebih optimis, di mana terdapat keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,”  kata Ibnu.

Kualitas Guru

Perubahan kurikulum ini melalui empat tahap. Pertama, Kemendikbud mengembangkan kurikulum dengan melibatkan para pakar pendidikan, kebudayaan, sampai ilmuwan. Kedua, presentasi di depan Wakil Presiden RI Boediono pada 13 November 2012. Ketiga, uji publik selama tiga minggu untuk menghimpun berbagai masukan masyarakat. Keempat, memformulasi ulang masukan masyarakat.

Para pakar yang telah dimintai masukan antara lain Rektor Universitas Paramadina dan penggagas gerakan "Indonesia Mengajar" Anies Baswedan, fisikawan dan tokoh pendidikan Yohanes Surya, sejarawan Taufik Abdullah, serta sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad.

Anies Baswedan meminta pemerintah juga memperhatikan guru, di samping menyusun kurikulum pendidikan baru untuk murid. “Kurikulum baru ini mensyaratkan kompetensi guru yang lebih baik karena beban ada di guru. Menurut kurikulum baru, guru harus mengajar dengan cara berbeda,” kata Anies.

Oleh sebab itu Anies menekankan pada peningkatan kualitas guru ketimbang perubahan kurikulum. “Ini karena ujung tombak ada pada guru. Apapun muatan kurikulum yang diberikan pada murid, yang akan menyampaikan materi di kelas adalah guru. Jadi mengubah kurikulum tanpa meningkatkan kualitas guru, tak ada artinya,” kata dia.

Anies menyatakan, seorang murid menyukai pelajaran bukan karena bukunya, tapi karena gurunya. Ia mencontohkan, pelajaran matematika jadi menyenangkan jika gurunya menyenangkan. “Meski bukunya sama, namun kecintaan murid pada suatu pelajaran berbeda-beda. Jadi fokus pemerintah jangan hanya di hulu (kurikulum), tapi juga di hilir (guru),” ujarnya.

Wakil Presiden Boediono sendiri, menurut Anies, sudah memberikan arahan pada Kemendikbud untuk memperhatikan faktor guru. “Arahan Pak Boediono sudah betul. Harus ada juga tim khusus untuk guru supaya seimbang,” kata dia.(np)


© VIVA.co.id

Older Posts

Follow by Email