Mathematics With Mr. Kenzie

LATIHAN UN MATEMATIKA ONLINE

Wednesday, 16 April 2014

Wednesday, 29 January 2014

Belajar dari Proses Penjumlahan Dua Bilangan Bulat untuk Membantu Siswa Belajar



Oleh : Fadjar Shadiq, M.App.Sc

Bilangan bulat dapat berupa bilangan bulat positif seperti 15 atau +15; dan dapat pula berupa bilangan bulat negatif seperti –15. Buku-buku dari luar negeri, terutama buku-buku untuk SD maupun SLTP banyak yang menggunakan notasi +15 ataupun15. Perhatikan notasi “+” dan “–“ pada lambang bilangan bulat tersebut yang terletak sedikit di atas lambang bilangannya. Hal ini mereka lakukan untuk membedakan dengan tajam antara notasi untuk menunjukkan bilangan negatif atau positif dengan notasi untuk operasi yaitu minus (kurang) dan plus (tambah). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh-contoh penjumlahan maupun contoh-contoh pengurangan berikut.


sumber : http://p4tkmatematika.org

MENGENALKAN OPERASI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN BILANGAN BULAT MENGGUNAKAN KEPING MUATAN


 

Oleh : Choirul Listyani

Materi operasi perkalian dan pembagian bilangan bulat diberikan pada jenjang sekolah dasar. Dalam menanamkan konsep perkalian dan pembagian bilangan bulat tersebut tentunya setiap guru mempunyai cara/strategi sendiri-sendiri sesuai dengan kondisi siswanya. Namun pembelajaran di SD seyogyanya mengacu tahapan pada kegiatan pembelajaran Bruner, yaitu: 1) enactive (konkret), 2) iconic (semikonkret), dan 3) symbolic/abstrak. Terinspirasi oleh video youtube tentang perkalian bilangan bulat[1] dan pembagian bilangan bulat[2] yang disampaikan oleh Prof. Dr. Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB, penulis mencoba mengemas kembali dalam sebuah tulisan yang memberikan salah satu alternatif cara dalam mengenalkan operasi perkalian dan pembagian bilangan bulat menggunakan alat peraga, yaitu keping muatan.


download file artikel

Apa dan Mengapa Guru Matematika Harus Menggunakan Teknik Bertanya?



Oleh : Fadjar Shadiq, M.App.Sc

Bertanya merupakan salah satu dari tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas (Kemdiknas, 2010:34). Ketujuh komponen itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling) refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Berikut ini akan dibahas satu contoh penerapan teknik bertanya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diacu para guru dan pengawas jenjang TK/SD atau RA/BA/MI. Berikut ini adalah contoh penggunaan teknik bertanya.
Beberapa waktu yang lalu,penulis menyampaikan materi pada Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah yang sebagian besar pesertanya adalah para pengawas jenjang TK/SD dari Provinsi Jawa Tengah; salah seorang peserta meminta penulis untuk menjelaskan sedikit lebih rinci tentang teknik bertanya. Permintaan tersebut didukung teman-teman lainnya. Menurutnya, akan sangat berguna jika mereka mengetahui lebih banyak tentang teknik bertanya tersebut. 
Kejadian ini menunjukkan bahwa teknik bertanya berdasarkan pengalaman pengawas TK/SD tadi sangat penting untuk dibahas. Buktinya, pengawas saja membutuhkan, apalagi para gurunya. Karena jatah waktu untuk diklat dimaksud sangat sedikit, sehingga permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Sebagai gantinya, naskah ini disusun dengan maksud utama untuk membantu para guru dan pengawas agar lebih memahami teknik bertanya itu dalam pembelajaran matematika, sehingga dapat diimplementasikan di kelasnya masing-masing selama proses pembelajaran dan bagi para pengawas agar dapat lebih membantu para guru mengimplementasikan teknik bertanya ketika memantau atau melakukan kegiatan supervisi di sekolah binaannya masing-masing.


sumber : http://p4tkmatematika.org

Apa dan Mengapa Guru Matematika Harus Menggunakan Teknik Bertanya?


Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan untuk melakukan observasi pembelajaran di salah satu SD di Jawa Timur. Tepatnya adalah kelas IV SD. Materi yang disampaikan adalah materi penjumlahan dan pengurangan.
Salah satu metode pembelajaran yang dipakai guru pada proses pembelajaran tersebut adalah dengan belajar kelompok menyelesaikan tugas-tugas terkait dengan penjumlahan dan pengurangan.
Pada saat penugasan kelompok ini, guru memberikan satu lembar kertas yang berisi soal ke masing-masing kelompok. Soal antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya berbeda. Kemudian secara kelompok, soal-soal tersebut diselesaikan. Setelah batas waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal, kemudian guru meminta perwakilan masing-masing kelompok untuk menuliskan ke papan tulis jawaban soal tersebut. Pada saat perwakilan masing-masing kelompok menuliskan jawaban di papan tulis, tidak nampak guru meminta siswa untuk menyalin jawaban tersebut, pun demikian tidak ada permintaan guru kepada siswa untuk menyalin tugas kelompok tersebut di buku mereka.
Melihat kondisi demikian, kami sempat berpikir, jika guru hanya memberikan penugasan pada selembar kertas, kemudian juga tidak meminta siswa untuk melihat, dan tidak nampak aktivitas siswa menyalin soal-soal beserta jawabnya, maka siswa tidak memiliki catatan soal-soal tersebut. Sehingga kemungkinan siswa tidak bisa mengulang kembali soal-soal tersebut untuk dikerjakan di rumah. Memang kondisi demikian ada positif dan negatifnya.
Positifnya adalah, waktu pembelajaran cenderung lebih efektif, karena guru tidak menuliskan soal dipapan tulis, tetapi diganti dengan soal pada fotocopyan. Biaya penggandaan cenderung relatif murah, karena satu kelompok yang terdiri dari beberapa siswa hanya mendapatkan satu lembar fotocopyan.
Namun demikian, juga ada dampak negatifnya. Di antaranya adalah tidak semua siswa memiliki salinan dari soal-soal yang diberikan oleh guru, sehingga siswa tidak bisa mengulang kembali soal yang diberikan oleh guru. Variasi soal masing-masing kelompok berbeda, sehingga jika siswa tidak kreatif maka dia tidak akan mendapatkan bank soal dari kelompok lain.
Melihat kondisi demikian, beberapa hal yang dapat dilakukan, sehingga siswa dapat memiliki bank soal dan memiliki referensi belajar di rumah adalah guru meminta siswa untuk menggandakan sendiri soal yang diberikan baik pada kelompoknya maupun kelompok lain, atau guru meminta siswa untuk menyalin soal beserta jawabannya saat wakil kelompok mengerjakan ke depan. Dengan demikian, siswa tetap memiliki catatan pada buku mereka masing-masing dan bisa mengulang kembali pembelajaran saat itu di lain waktu maupun di lain tempat. Mungkin hal ini hal sederhana, akan tetapi jika tidak disikapi dengan tepat maka siswa akan kekurangan referensi belajar.

sumber : http://p4tkmatematika.org

Permainan Tac Tic Toe yang Efektif dan Praktis Untuk Membantu Siswa SD Mengkonstruksi Keterampilan Konsep Fakta Dasar Perkalian

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media permainan pelangi tac tic toe yang efektif dan praktis untuk membantu siswa menghafal fakta dasar perkalian. Penelitian ini dilatarbelakangi masih banyak siswa SD yang tidak hafal perkalian fakta dasar sehingga menghambatpencapaian kompetensi-kompetensi matematika selanjutnya.Metode pengembangan media pembelajaran ini menggunakan metode   langkah-langkah penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang dikembangkan oleh Borg and Gall,yang disederhanakan oleh  Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (2008), terdiri dari 5 tahapan utama, yaitu 1)Melakukananalisis produk yang akan dikembangkan,2)Mengembangkan produk awal,3)Validasi ahli dan revisi, 4)Ujicoba lapangan skala kecil dan revisi produk,dan 5)Ujicoba lapangan skala besar dan produk akhir.Dikarenakan keterbatasan biaya penelitian ini baru sampai pada langkah ke-4 dengan  subyek uji coba penelitian  sejumlah 30 siswa.Jenis instrumen yang digunakan adalah angket,lembar catatan saran, serta kamera photo digital.Hasil Penelitian menunjukkan telah berhasil mengembangkan mediapermainan pelangi tac tic toe yang dapat digunakan siswa untuk bermain sambil belajar dengan  aspek keefektifan dan kepraktisan media pada kriteria baik,sehingga media yang dikembangkan ini diharapkan mampu meningkatkan prestasi siswa pada matapelajaran matematika pada umumnya.

download file artikel


sumber : http://p4tkmatematika.org/

Membuat Kubus dari Kertas Yuk? Sambil Mempraktekkan Teori Bruner



 

Alat peraga sangat penting untuk membantu siswa memahami ide-ide matematika yang bersifat abstrak. Terutama untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Menurut Bruner, proses pembelajaran sebaiknya menggunakan tiga tahap, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik; sehingga melalui tiga tahap tersebut proses pembelajarannya menjadi optimal



sumber : http://p4tkmatematika.org/

Older Posts

Follow by Email